Selasa, 03 November 2009
Kelompok Orang Tua Lansia
Sejak bulan Agustus 2009, Ibu heny Yudea, anggota PeacewomenIndonesia yang berada di Yogyakarta, aktif dalam kegiatan Kelompok Orang Tua Lansia di empat desa yang ada di Merapi, Yogyakarta. Tujuan dari dibentuknya Kelompok Orang Tua Lansia adalah untuk mempromosikan hak – hak para lansia serta meningkatkan kemandirian para lansia dalam sektor ekonomi. Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tersebut adalah medical check-up, membuat taman lansia yang ditanami jenis tanaman obat, membuat barang kerajinan tangan seperti sapu lidi, tikar. Selama bulan september sampai Oktober ini, Ibu Heny masih aktif dalam mengurus dan mendokumentasikan kegiatan untuk Kelompok Orang Tua Lansia.
Rumah Pintar Indonesia
Ibu Hermawati, salah satu Peacewomen Indonesia yang berada di Batulicin, Kalimantan Selatan, di bulan Agustus bekerjasama dengan Bapak Taufik dari Yayasan Rumah Prestasi Indonesia dan dompet Ulin peduli, mendirikan program Paud / rumah pintar Indonesia. Kegiatan rumah pintar tersebut mulai berlangsung secara aktif pada bulan September, jadi selama bulan september sampai bulan ini ( Oktober ) ibu Hermawati memfokuskan kegiatannya untuk mengurus rumah pintar Indonesia. Pada tanggal 16 Oktober 2009, rumah pintar Indonesia akan mendapat kunjungan dari PT. Al-Rukmin Indonesia. Dalam kunjungannya PT. Al-Rukmin akan menyumbangkan buku – buku untuk anak SD. Ibu hermawati mengharapakn kerjasama yang dia bina dengan PT. Al-Rukmin dapat berkesinambungan. Beliau juga sedang mengerjakan proposal untuk memperbaiki fasilitas rumah pintar Indonesia.
Kegiatan Sr Sesilia di Atambua
Di bulan Agustus, Sr. Sesilia mempunyai beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut antara lain adalah pada tanggal 12 Agustus 2009, Sr. Sesilia mengikuti fokus group diskusi dan evaluasi terhadap UEP Welorlaran yang diselenggarakan oleh Women and Children Care Forum ( WCCF ). Diskusi yang bertemakan Gender, Violence, Trafficking, dan efek dari HIV/AIDS tersebut diikuti oleh para anggota UEP, perempuan, dan remaja. Dalam diskusi tersebut dijelaskan mengenai apa saja bentuk – bentuk kekerasan terhadap perempuan baik secara fisik, psikis, dan seksual. Dijelaskan juga mengenai prosedur hukum bagi pekerja perempuan, yang tentunya akan berguna bagi para perempuan yang ingin bekerja. Menurut Sr. Sesilia, para partisipan sangat antusias dalam mengikuti diskusi ini. Selama dua hari, yaitu tanggal 24-25 Agustus 2009, sr. Sesilia mendampingi proses repatriasi para pengungsi yang ingin kembali ke Timor Leste. Pada tanggal 27 Agustus 2009, Sr. Sesilia menghadiri peresmian Saint Monica Partnership of Atambua, yang diselenggarakan di SMKK Kusuma Hall. Yayasan Santa Monica ini dibentuk sebagai wadah bagi para janda agar mereka dapat meningakatkan taraf hidupnya, menumbuhkan rasa solidaritas bagi sesama janda, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Yayasan ini merupakan yayasan yang independen dan terbuka untuk gereja lokal maupun luar.Untuk mencapai misinya, yayasan tersebut mengadakan beberapa program antara lain Program untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang dilakukan dengan cara mengadakan renungan alkitab, pemberian sakramen, berdoa bagi perdamaian dunia. Mengadakan training, kursus, dan seminar untuk meningkatkan kreativitas, dan membangun jaringan untuk memperkuat rasa solidaritas.
Pada tanggal 28 Agustus 2009, Sr. Sesilia menjadi pembicara dalam seminar bertemakan trafficking, gender, dan violence bagi para pedagang kaki lima di Atambua. Dalam seminar ini Sr. Sesilia memperkenalkan kepada para pedagang kaki lima mengenai Women and Children Care Forum (WCCF), menjelaskan mengenai isu perdagangan perempuan dan anak, serta kekerasan terhadap perempuan. Mereka juga menonton film mengenai HIV/AIDS. Di akhir acara para partisipan mendapatkan uang sejumlah Rp250.000,00 agar dapat mereka gunakan untuk mengembangkan usaha mereka. Agar maksud dari tujuan pemberian uang tersebut tercapai yaitu untuk meningkatkan produktivitas mereka, maka dibentuklah 5 grup dimana masing-masing ketua grup akan bertanggung jawab terhadap penggunaan uang tersebut.
Di bulan September, tepatnya pada tanggal 12, Sr. Sesilia kembali mendampingi satu keluarga untuk melakukan proses repatriasi dan rekonsiliasi ke Suai, Timor Leste. Kemudian pada tanggal 14 September 2009, sr. Sesilia menyelenggarakan workshop mengenai pencatatan dan pelaporan kasus kekerasan berbasis gender di hotel Paradiso, Atambua. Tujuan diadakannya workshop tersebut adalah untuk menyusun system pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak antara penyedia layanan untuk korban supaya Kabupaten Belu mempunyai data terbaru-reguler dan yang mewakili seluruh wilayah tentang prevalensi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sehingga dapat memberikan informasi dan kontribusi untuk penyusunan kebijakan, program dan kegiatan perlindungan perempuan dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan.
Pada tanggal 28 Agustus 2009, Sr. Sesilia menjadi pembicara dalam seminar bertemakan trafficking, gender, dan violence bagi para pedagang kaki lima di Atambua. Dalam seminar ini Sr. Sesilia memperkenalkan kepada para pedagang kaki lima mengenai Women and Children Care Forum (WCCF), menjelaskan mengenai isu perdagangan perempuan dan anak, serta kekerasan terhadap perempuan. Mereka juga menonton film mengenai HIV/AIDS. Di akhir acara para partisipan mendapatkan uang sejumlah Rp250.000,00 agar dapat mereka gunakan untuk mengembangkan usaha mereka. Agar maksud dari tujuan pemberian uang tersebut tercapai yaitu untuk meningkatkan produktivitas mereka, maka dibentuklah 5 grup dimana masing-masing ketua grup akan bertanggung jawab terhadap penggunaan uang tersebut.
Di bulan September, tepatnya pada tanggal 12, Sr. Sesilia kembali mendampingi satu keluarga untuk melakukan proses repatriasi dan rekonsiliasi ke Suai, Timor Leste. Kemudian pada tanggal 14 September 2009, sr. Sesilia menyelenggarakan workshop mengenai pencatatan dan pelaporan kasus kekerasan berbasis gender di hotel Paradiso, Atambua. Tujuan diadakannya workshop tersebut adalah untuk menyusun system pencatatan dan pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak antara penyedia layanan untuk korban supaya Kabupaten Belu mempunyai data terbaru-reguler dan yang mewakili seluruh wilayah tentang prevalensi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sehingga dapat memberikan informasi dan kontribusi untuk penyusunan kebijakan, program dan kegiatan perlindungan perempuan dan anak yang menjadi korban tindak kekerasan.
Pelatihan Anggota DPRD di Maluku
Salah satu anggota Peacewomen Indonesia yang berada di Maluku yaitu Ibu Olivia lasol, selama bulan Agustus s/d September ini, Ibu Olivia mempunyai kegiatan khusus yaitu memberikan pelatihan kepada anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2009-2014. Pelatihan tersebut terselenggara berkat kerjasama yang dilakukan dengan IRI Jakarta. Adapun tujuan utama dari pelatihan tersebut adalah agar para anggota DPRD Provinsi Maluku, terutama bagi anggota baru pada umumnya dan anggota perempuan pada khususnya yang pada periode ini jumlahnya naik sangat banyak mencapai 31%, dapat mengetahui tugas - tugas mereka dengan baik. Bentuk kerjasama yang dilakukan Ibu Olivia dengan IRI Jakarat ini bersifat longterm karena setelah pelantikan anggota DPRD nanti mereka telah sepakat untuk terus menjalin kerjasama.
Kegiatan Peace Women Indonesia ( Hilda D. Rollobessy )
Selama bulan Agustus 2009, Ibu Hilda masih melanjutkan aktivitas lama yaitu menjalankan program Early Warning and Early response conflict di beberapa lokasi di Maluku, sedangkan dalam bulan September yang bertepatan dengan bulan ramadhan ini, beliau tidak melakukan kegiatan secara kelembagaan, namun menjadi narasumber untuk pelatihan kepemimpinan pemuda untuk Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Universitas Pattimura. Adapun dalam acara tersebut, Ibu Ida membawakan materi kesetaraan Gender. Selain itu beliau juga akan mengikuti undangan diskusi dengan teman-teman dari lembaga lain sekaligus buka puasa bersama.
Pada tanggal 10 - 18 September, Ibu Ida akan ke kabupaten Maluku tengah yang terletak di Masohi ,Pulau Seram. Di sana beliau akan menjadi fasilitator dalam kegiataan Lokalatih untuk para raja – raja atau pemimpin lokal di empat kecamatan yang ada disana dengan program Optimalisasi Peran dan Fungsi Lembaga Latupati untuk Memperkuat Kohesi Sosial menuju Perdamaian Berkelanjutan.
Pada tanggal 10 - 18 September, Ibu Ida akan ke kabupaten Maluku tengah yang terletak di Masohi ,Pulau Seram. Di sana beliau akan menjadi fasilitator dalam kegiataan Lokalatih untuk para raja – raja atau pemimpin lokal di empat kecamatan yang ada disana dengan program Optimalisasi Peran dan Fungsi Lembaga Latupati untuk Memperkuat Kohesi Sosial menuju Perdamaian Berkelanjutan.
Minggu, 26 Oktober 2008
Perempuan Perdamaian Indonesia: Perempuan-perempuan yang Tidak Bisa Diam
Walaupun tidak mendapatkan Nobel Perdamaian pada tahun 2005 silam, perjuangan para Perempuan Perdamaian di seluruh dunia tidak lantas berhenti begitu saja. Demikian pula halnya dengan seluruh Perempuan Perdamaian Indonesia, yang perjuangannya bahkan semakin menyebar ke berbagai wacana seiring dengan semakin beragamnya permasalahan dalam negeri. Demi meneruskan perjuangan mereka ini, ke-23 Perempuan Perdamaian Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah negeri secara berkesinambungan melakukan berbagai kegiatan di daerah masing-masing.
Seperti yang dilakukan oleh Lily Djenaan (Manado, Sulut). Perempuan Perdamaian yang dikenal sebagai aktivis yang kerap menentang kekerasan terhadap perempuan ini tengah sibuk berkampanye menentang RUU Pornografi dan mencalonkan diri ke legislatif untuk tingkat propinsi.
Demikian pula dengan Dewi Rana Amir (Palu, Sulteng) yang baru saja membentuk Jaringan Perempuan Peduli Perdamaian Kota Palu, saat ini kerap mengadakan diskusi-diskusi di kampung yang sasarannya adalah petani dan masyarakat adat (terutama perempuan), usaha perlindungan hukum terhadap para petani, serta pembangunan Sekolah Alternatif bagi Perempuan Komunitas Adat Selena Kota Palu.
Masih dari tanah Sulawesi, Zohra Andi Baso (Makasar, Sulsel) yang konsisten dengan isu perempuan, saat ini sibuk melakukan kampanye penegakan hak-hak perempuan yang berkaitan dengan masalah kekerasan terhadap perempuan, serta posisi perempuan dalam pemilu 2009 yang akan datang.
Sementara Ratna Indraswari Ibrahim (Malang, Jatim) saat ini sedang merencanakan kegiatan untuk menyambut Hari Cacat Internasional, yang kebanyakan anggotanya perempuan yang termarginalkan, baik sebagai perempuan maupun sebagai penyandang cacat.
Selain itu, ada pula Brigitta Renyaan (Maluku), yang saat ini tengah melakukan sosialisasi hak anak dan perempuan, Ranperda tentang mekanisme penanganan perempuan dan anak korban kekerasan, serta membuka Chilldren & Women Center di Kabupaten Maluku Tenggara.
Berkaitan dengan kegiatan "Perempuan & 100 Tahun Kebangkitan Nasional" serta kampanye "16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan" yang akan diadakan pada bulan November mendatang, para Perempuan Perdamaian tersebut pun memiliki caranya masing-masing. Misalnya dengan mengadakan seminar yang membicarakan peranan perempuan di bidang politik dan lingkungan, membuat dokumentasi aktivis perempuan, malam renungan untuk perempuan, mengkampanyekan program Hari Cacat Internasional, sosialisasi tentang UU No. 23 tahun 2002 dan 2004, serta mengadakan diskusi-diskusi.
Konsep perdamaian yang beragam, mendukung HAM dan kesetaraan, telah mengantar para Perempuan Perdamaian untuk mewujudkan perdamaian dengan pendekatan yang lebih menyeluruh dan tidak tersegmentasi. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dan keterbukaan informasi antara sesama Perempuan Perdamaian. Maka, pada bulan November nanti akan diadakan koordinasi untuk kegiatan tahun 2009. Melalui koordinasi ini diharapkan partisipasi dari para Perempuan Perdamaian Indonesia untuk mempererat komitmen dan saling berbagi informasi.
Sabtu, 05 April 2008
Pemutaran Film Perempuan Perdamaian di TIM Cikini 21 - 27 April 2008
Program Pemutaran Film Dokumenter Perempuan Perdamaian
Kineforum & PWAG
Bekerjasama dengan Komnas Perempuan, RAHIMA, PEKKA dan Jaringan Perempuan Perdamaian Indonesia (PWAG Indonesia)
Perempuan Penggagas Perdamaian
cerita dari para perempuan pekerja HAM dan perdamaian
Peace Women Across the Globe (PWAG)
Begitu banyaknya usaha dan program telah dilakukan gerakan perempuan Indonesia diseluruh dunia. Paska 1998, di Indonesia juga banyak sekali organisasi perempuan yang terbentuk dan bekerja untuk isu perempuan, HAM dan perdamaian. Para perempuan ini telah berjuang dengan gigih dan berusaha keras bagi perbaikan kehidupan dan harkat perempuan baik di komunitasnya maupun Indonesia secara keseluruhan.
Jaringan Peace Women Across the GLobe (PWAG), memperkenalkan 1000 perempuan perdamaian dari seluruh dunia, di awali tahun 2004, ketika 1000 perempuan dinominasikan pada penghargaan Nobel Perdamaian periode 2005. Walaupun tidak berhasil, PWAG tetap berjalan dengan mengerjakan berbagai kampanye, baik itu membuat buku, film dokumenter, pameran postcards perempuan dan juga berbagai bentuk pernyataan pers untuk saling mendukung/solidaritas perempuan di berbagai belahan dunia. (www.1000peacewomen.org).
Dengan pemutaran film dokumenter ini, PWAG berusaha mempromosikan perempuan para aktifis HAM dan perdamaian di seluruh dunia, sambil memperingati Hari Perempun Internasional Maret 2008 dan Hari Kartini April 2008. Film-film didedikasikan untuk para perempuan yang telah bekerja keras untuk isu HAM, demokrasi atau perdamaian, sambil menggugah agar inisiatif lain bermunculan setelah melihat film tentang para perempuan yang sangat berdedikasi ini.
Film yang akan diputar:

1000 Women and A Dream (2005), documenter, 40 Menit, Bahasa Inggris, Producer PWAG Switzerland
Menceritakan awal dibangunnya jaringan 1000 Perempuan Perdamaian (yang menominasikan 1000 perempuan ke Nobel Perdamaian 2005 lalu). Rebecca Vermot terbang ke beberapa Negara dan mewawancarai langsung beberapa “Perempuan Penegak HAM dan Perdamaian” di belahan dunia, mendengar perjuangan mereka, melihat kondisi daerahnya langsung dan mencoba menjalin kerjasama bagi jaringan perdamaian internasional.
Dokumenter Perempuan dari India/PWAG
Redefining Peace (2006), 40 Menit, Bahasa Inggris/Hindia, Producer SANGAT India
Menceritakan tentang para perempuan pejuang HAM dan perdamaian di India. Film ini menggambarkan kerasnya perjuangan para aktifis perempuan India, jatuh bangun, terror yang dihadapi atau kekerasan yang dialami mereka, demi menegakkan keadilan, mencari perdamaian dan perjuangan bagi peningkatan hak-hak azasi manusia dan khususnya perempuan.
Let The World See (2006), 40 menit, Producer: Lau Kin Chi
Definisi perdamaian dari sisi pandang para perempuan di China. Inilah kehidupan para perempuan di China, yang berjuang bagi perbaikan hidup mereka. Mereka menyatakan, bahwa perdamaian adalah kondisi di mana anak perempuan bisa kuliah, gurun pasir berubah menjadi oasis yang menyegarkan, manusia dan alam bisa hidup harmonis.
Making Possible the Impossible: Peace, Women, Nobel Prize (2007), 40 menit, Bahasa Chinese, subtitle English, Producer: Lau Kin Chi (PWAG Hong Kong)
Melalui cerita 3 perempuan ini, Liu-Ngun Fung, Wu Lo-sai Rose, Wai-king, dieksplorasi begitu banyak dimensi dari masalah kekerasan,visible atau tidak visible, fisik atau kultur, yang tersulam di keseharian hidup manusia di Hong Kong, dan bagaimana para perempuan ini menangani berbagai situasi kekerasan yang harus dihadapi.
TALA BAI – Tutur Pengalaman Perempuan Pembela HAM(2007), 22.40 Menit, Bahasa Indonesia, Producer Komnas Perempuan
Marilah berbagi suka dan duka dengan 12 aktifis HAM perempuan Indonesia ini. Mulai dari sudut Aceh, Jawa, NTT, Ambon dan Sulawesi, para perempuan tegar ini memperjuangkan hal-hal yang awalnya dianggap sulit dilakukan oleh para perempuan. Tala Bai adalah salah satu alat yang dipilih untuk menggulirkan diskusi dengan semua pembela HAM, baik di komunitas sendiri atau komunitas lebih luas untuk berbagai sisi kehidupan, resiko dan hal-hal yang dihadapi para pekerja HAM Indonesia.
Mollo di Timor (2007): Suara Masyarakat Mollo, 10 Menit, Bahasa Indonesia, Producer: Caroline Monteiro/PWAG & Ragam, Sutradara: I.G.Ketut Trisna Pramana & Carolina Monteiro
Masyarakat adat Mollo, di dataran pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan, NTT, telah menempuh hampir satu decade memperjuangan hak tanah suci milik komunitas adapt. Bagi mereka tanah mereka yang mengandung marmer ini adalah air susu ibu, sumber kehidupan masyarakat. Bila investor datang, menancapkan mesinnya mengambil marmer, bagaimana ibu pertiwi mereka bisa melanjutkan hidupnya? Para ibu-ibu pemberani ini juga bercerita tentang hidup mereka dan masa depan Mollo.
IT’s Time to Speak Up! (2006), documenter, Durasi: disc 1 57 menit, disc 2: 40 Menit, Bahasa Indonesia, Producer: Nani Zulminarni, PEKKA, Perempuan Kepala Keluarga.
Perempuan bukan hanya sebagai bagian dari keluarga, tapi juga terbukti kepala keluarga. Pekka adalah program yang mendukung banyak perempuan kepala keluarga, yang berjuang mempertahankan hidupnya, dengan berbagai kompleksitas yang dihadapinya. Nani Zulminarni salah satu Peace Women menginisiasi program ini hampir 9 tahun lalu dan telah bersama-sama para ibu anggota PEKKA membangun jaringan kuat para perempuan kepala keluarga di berbagai propinsi.
Menghikmati Shalawat Penyemai Kesetaraan (2006), Rahima, 14.50 menit, documenter, Bahasa Indonesia, Producer RAHIMA, Sutradara: Daniel Rudi Haryanto
Rahima sebuah organisasi yang peduli pada isu perempuan, gender dan perspektif Islam, mempersembahkan sebuah documenter tentang sisi lain dari Shalawat yang juga bisa menjadi Shalawat Keadilan dan membawa perspektif kesetaraan dalam lingkungan Islam khususnya di berbagai pesantren/komunitas muslim yang ada.
Kineforum & PWAG
Bekerjasama dengan Komnas Perempuan, RAHIMA, PEKKA dan Jaringan Perempuan Perdamaian Indonesia (PWAG Indonesia)
Perempuan Penggagas Perdamaian
cerita dari para perempuan pekerja HAM dan perdamaian
Peace Women Across the Globe (PWAG)
Begitu banyaknya usaha dan program telah dilakukan gerakan perempuan Indonesia diseluruh dunia. Paska 1998, di Indonesia juga banyak sekali organisasi perempuan yang terbentuk dan bekerja untuk isu perempuan, HAM dan perdamaian. Para perempuan ini telah berjuang dengan gigih dan berusaha keras bagi perbaikan kehidupan dan harkat perempuan baik di komunitasnya maupun Indonesia secara keseluruhan.
Jaringan Peace Women Across the GLobe (PWAG), memperkenalkan 1000 perempuan perdamaian dari seluruh dunia, di awali tahun 2004, ketika 1000 perempuan dinominasikan pada penghargaan Nobel Perdamaian periode 2005. Walaupun tidak berhasil, PWAG tetap berjalan dengan mengerjakan berbagai kampanye, baik itu membuat buku, film dokumenter, pameran postcards perempuan dan juga berbagai bentuk pernyataan pers untuk saling mendukung/solidaritas perempuan di berbagai belahan dunia. (www.1000peacewomen.org).
Dengan pemutaran film dokumenter ini, PWAG berusaha mempromosikan perempuan para aktifis HAM dan perdamaian di seluruh dunia, sambil memperingati Hari Perempun Internasional Maret 2008 dan Hari Kartini April 2008. Film-film didedikasikan untuk para perempuan yang telah bekerja keras untuk isu HAM, demokrasi atau perdamaian, sambil menggugah agar inisiatif lain bermunculan setelah melihat film tentang para perempuan yang sangat berdedikasi ini.
Film yang akan diputar:

1000 Women and A Dream (2005), documenter, 40 Menit, Bahasa Inggris, Producer PWAG Switzerland
Menceritakan awal dibangunnya jaringan 1000 Perempuan Perdamaian (yang menominasikan 1000 perempuan ke Nobel Perdamaian 2005 lalu). Rebecca Vermot terbang ke beberapa Negara dan mewawancarai langsung beberapa “Perempuan Penegak HAM dan Perdamaian” di belahan dunia, mendengar perjuangan mereka, melihat kondisi daerahnya langsung dan mencoba menjalin kerjasama bagi jaringan perdamaian internasional.
Dokumenter Perempuan dari India/PWAG
Redefining Peace (2006), 40 Menit, Bahasa Inggris/Hindia, Producer SANGAT India
Menceritakan tentang para perempuan pejuang HAM dan perdamaian di India. Film ini menggambarkan kerasnya perjuangan para aktifis perempuan India, jatuh bangun, terror yang dihadapi atau kekerasan yang dialami mereka, demi menegakkan keadilan, mencari perdamaian dan perjuangan bagi peningkatan hak-hak azasi manusia dan khususnya perempuan.
Let The World See (2006), 40 menit, Producer: Lau Kin Chi
Definisi perdamaian dari sisi pandang para perempuan di China. Inilah kehidupan para perempuan di China, yang berjuang bagi perbaikan hidup mereka. Mereka menyatakan, bahwa perdamaian adalah kondisi di mana anak perempuan bisa kuliah, gurun pasir berubah menjadi oasis yang menyegarkan, manusia dan alam bisa hidup harmonis.
Making Possible the Impossible: Peace, Women, Nobel Prize (2007), 40 menit, Bahasa Chinese, subtitle English, Producer: Lau Kin Chi (PWAG Hong Kong)
Melalui cerita 3 perempuan ini, Liu-Ngun Fung, Wu Lo-sai Rose, Wai-king, dieksplorasi begitu banyak dimensi dari masalah kekerasan,visible atau tidak visible, fisik atau kultur, yang tersulam di keseharian hidup manusia di Hong Kong, dan bagaimana para perempuan ini menangani berbagai situasi kekerasan yang harus dihadapi.
TALA BAI – Tutur Pengalaman Perempuan Pembela HAM(2007), 22.40 Menit, Bahasa Indonesia, Producer Komnas PerempuanMarilah berbagi suka dan duka dengan 12 aktifis HAM perempuan Indonesia ini. Mulai dari sudut Aceh, Jawa, NTT, Ambon dan Sulawesi, para perempuan tegar ini memperjuangkan hal-hal yang awalnya dianggap sulit dilakukan oleh para perempuan. Tala Bai adalah salah satu alat yang dipilih untuk menggulirkan diskusi dengan semua pembela HAM, baik di komunitas sendiri atau komunitas lebih luas untuk berbagai sisi kehidupan, resiko dan hal-hal yang dihadapi para pekerja HAM Indonesia.
Mollo di Timor (2007): Suara Masyarakat Mollo, 10 Menit, Bahasa Indonesia, Producer: Caroline Monteiro/PWAG & Ragam, Sutradara: I.G.Ketut Trisna Pramana & Carolina Monteiro
Masyarakat adat Mollo, di dataran pegunungan Mollo, Timor Tengah Selatan, NTT, telah menempuh hampir satu decade memperjuangan hak tanah suci milik komunitas adapt. Bagi mereka tanah mereka yang mengandung marmer ini adalah air susu ibu, sumber kehidupan masyarakat. Bila investor datang, menancapkan mesinnya mengambil marmer, bagaimana ibu pertiwi mereka bisa melanjutkan hidupnya? Para ibu-ibu pemberani ini juga bercerita tentang hidup mereka dan masa depan Mollo.
IT’s Time to Speak Up! (2006), documenter, Durasi: disc 1 57 menit, disc 2: 40 Menit, Bahasa Indonesia, Producer: Nani Zulminarni, PEKKA, Perempuan Kepala Keluarga.
Perempuan bukan hanya sebagai bagian dari keluarga, tapi juga terbukti kepala keluarga. Pekka adalah program yang mendukung banyak perempuan kepala keluarga, yang berjuang mempertahankan hidupnya, dengan berbagai kompleksitas yang dihadapinya. Nani Zulminarni salah satu Peace Women menginisiasi program ini hampir 9 tahun lalu dan telah bersama-sama para ibu anggota PEKKA membangun jaringan kuat para perempuan kepala keluarga di berbagai propinsi.
Menghikmati Shalawat Penyemai Kesetaraan (2006), Rahima, 14.50 menit, documenter, Bahasa Indonesia, Producer RAHIMA, Sutradara: Daniel Rudi Haryanto
Rahima sebuah organisasi yang peduli pada isu perempuan, gender dan perspektif Islam, mempersembahkan sebuah documenter tentang sisi lain dari Shalawat yang juga bisa menjadi Shalawat Keadilan dan membawa perspektif kesetaraan dalam lingkungan Islam khususnya di berbagai pesantren/komunitas muslim yang ada.
Langganan:
Postingan (Atom)